welcome in tristio blog......

Sabtu, 10 Maret 2012

Embun Dikala Senja

Terik pelita sejati menyinari persada sore ini setangkai mawar yang merekah indah tadi pagi, kini layu setelah kumbang arjuna pergi tak ada kata yang mencaci, hanya gerimis yang perlahan menjadi deras di nurani ingatan masa lalu mawar kembali menjadi bioskop dimata hatinya angan tentang indah cinta, dan harap tentang megahnya mahligai asmara seakan menjadi cerita cinta yang tiada akhirnya semua begitu sempurna awalnya mahligai asmara terwujud indah sebagaimana hakikatnya jalinan cinta dua makhluk-Nya, menjadi padang zamrud indah didunia cerita cinta yang penuh hari-hari bahagia menguntai seribu makna, dan menjadi pupuk subur bagi keindahan asa semua begitu indah tiada cela sampai suatu ketika, kumbang arjuna terpikat akan keharuman mawar yang baru merekah dan tanpa rasa bersalah, kumbang arjuna pergi meninggalkan mawar dengan seribu luka tak ada air mata, hanya jiwa yang tersiksa dan gerimis nurani meratapi derita asmara mawar semakin layu, dirajam sinar pelita dunia tak ada air mata, hanya ucapan lirih yang akhirnya mawar ucapkan satu kalimat dari kelopak yang bersahaja satu kalimat yang melukiskan semua derita jiwanya dan ketika pelita dunia semakin membara satu kalimat itu teruntai begitu saja “sungguh suatu hal mustahil, jika kuharapkan ada setetes embun dikala senja” yah.. Dan memang takkan pernah ada Embun Dikala Senja perlahan mawar merasa dirinya semakin dekat dengan keindahan surga dan selembut angin sore menyapa dunia, perlahan kelopak terakhir mawar gugur mengharumkan persada.. Karya : Kasih Rustiani Puisi ini bersumber dari : http://www.gudangpuisi.com/2012/03/embun-dikala-senja.html#ixzz1okMe98Nf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar